Assalamu’alaikum wr. wb.
………….Allhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah memberi begitu banyak kenikmatan pada kita semua, seperti pada kesempatan kali ini, Kita masih bisa dipertemukan dalam kondisi yang insyaAllah penuh rahmat dan barakah dari Allah SWT. Amin
Tidak lupa shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pada para pengikutnya yang senantiasa istiqamah sampai akhir zaman.
Alhamdulillah, kali ini kita masih diberi kesempatan untuk saling menyambung silaturahim via internet. Pada kesempatan (via situs) ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah memberi dukungan kepada saya untuk membuat suatu situs yang insya Allah bermanfaat bagi khalayak umum dan bagi umat Islam pada khususnya. Juga saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah bersedia mendukung & mengoptimalkan waktu, tenaga, pikiran serta bantuan - bantuan lain, baik materi maupun spiritual sehingga dengan ijin Allah SWT terciptalah situs Islami ini……..
Wassalam Wr. Wb.
NASEHAT
Saling menasehati adalah memberi ingatan dan mendorong, mengajak dan menghimbau serta menyampaikan dengan cara familiar mengenai suatu maksud dan tujuan, orientasi dan konsultasi tentang suatu responsibiliti dan amanat. Hal ini lebih bersifat kolektif dengan hasil ganda, dimana setiap individu dapat kerjasama dan sama bekerja sehingga membawa pengaruh psikologis yang dalam, karena masing – masing merasakan bahwa ia mempunyai teman yang mau menasehati dirinya dan mengingatkannya. Menumbuhkan rasa simpati dan cinta, tidak menyia-nyiakan teman, bahkan menambah semangat karena ia tidak sendirian didalam melaksanakan hak kebenaran.
KESIAPAN MENERIMA NASEHAT
Suatu hari ‘uyainah bin bin hishen datang keibukota keponakannya, al hurr bin Qays. Al hur adalahsalah seorang penasehat khalifah umar bin khattab. Walaupun ia masih muda belia, Al Hurr termasuk kedalam golongan yang memenuhi syarat sebagai penasehat sebagaimana yang ditetapkan umar. Yakni kepandaian dan penguasaan tentang Al-Qur’an dan kandungannya. Setelah berjumpa dengan Al Hurr berkatalah Uyainah : “Hai kemenakanku, engaku adalah seorang yang terkemuka dihadapan Amirul Mukminin, maka mintakan izin untukku agar bisa menghadap kepadanya.” Permintaan ini disetujui Al Hurr. Kemudian ia membawa pamannya kemajelis Umar bin Khattab. Ketika sudah berhadapan dengan pimpinan tertinggi kaum muslimin itu, tiba – tiba berkatalah Uyainah dengan lantangnya: “Hai putra Al Khattab, demi Allah engkau tidak memberi yang cukup kepada kami, dan tidak menghukum dengan adil!”. Umar tersentak kaget, mukanya memerah dan amarahnya tak tertahankan.tangannya mengepal dan hampir saja sebuah pukulan melayang jika tidak dengan segera Al Hurr mencegahnya. Al Hurr berkata : “ Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi SAW dalam ayat : “Ambilah hati orang dengan suka memaafkan dan anjurkanlah kebaikan dan abaikan orang-orang yang bodoh.” Sedang pamanku ini, Ya Umar, adalah orang yang bodoh” . umar terkesima. Demi Allah, seolah – olah ia belum pernah mendengar ayat ini, padahal ia selalu teliti dalam tiap-tiap pembacaan ayat-ayat Al – Qur’an. Kisah diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhory. Dari kisah diatas dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa dalam tanashuh tidak saja diperlukan adanya orang yang berani mengemukakan nasehat atau pendapat saja, tetapi dari pihak yang dinasehati diperlukan pula suatu kesiapan menerima nasehat atau pendapat orang lain. Tetapi dalam realitas sehari-hari inilah yang paling sulit diwujudkan. Tak jarang kita menyaksikan seseorang yang sangat senang mengkritik orang, tetapi ia sangt tidak tahan dikritik. Bentuk ketidak siapan menerima kritik bermacam-macam. Ada orang yang selalu berkilah (mengelak) dari pengakuan atas kesalahan yang diperbuatnya. Bahkan adapula yang justru memarahi atau mengecam dan mengancam orang yang menegurnya. Ada beberapa syarat agar senatiasa siap menerima nasehat atau teguran yang paling keras sekalipun dari saudaranya : Niyat ikhlas dalam hatinya dalam meneriam teguran dari saudarnya. Keikhlasan akan menjauhkan sifat Kibr (menolak kebenaran). Seorang yang ikhlas tidak akan melihat siapa yang menegur dirinya, entah dari seorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukan kedudukan baik sosial maupun ekonominya, atau dari seorang anak tidak menjadi persoalan. Yang penting adalah apakah yang disampaikan itu bernilai kebenaran atau tidak.
Husnuzhzhan : walaupun teguran itu keras kita harus berprasangka baik bahwa itu keluar semata-mata sebagi cerminan rasa kasih sayang saudara kita. Berkata Rosulullah SAW : “Agama itu nasehat”. Kami (sahabat) bartanya : untuk siapa? Jawab Nabi : Bagi Allah, dan kitab-Nya dan Rosul-Nya dan pemimpin-pemimpin serta kaum muslimin pada umumnya.(HR.Muslimin). dalam metode
Penyampain kadang kita temukan cara-cara yang kurang menarik. Dan hal ini disebabkan oleh lemahnya pendidikan yang diterima sipemberi ansehat. Cara yang dilakukan Al Hurr memang menampakkan hal ini. Barangkali ia memang melihat kelemahan umar bin khattab dari sisi yang diketahuinya, meskipun sebenarnya ia tak boleh lekas-lekas menggeneralisir hal itu.
Tawadlu’ : yaitu sikap rendah hati. Firman Allah : rendahkan sayapu (sikapmu) terhadap pengikutmu dari kaum mukmin (Al Hijr:88). Sedang Rosulullah bersabda: “tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang bertawadlu(merendah hati) karena Allah, melainkan dimulyakan oleh Allah”(HR. Muslim).
Mahabbah : diatas semuanya itu rasa kecintaan dikalangan sesama muslim harus ditanamkan. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara(Al Hujurat). Sedang Rosulullah bersabda : “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta kasih dan rahmat hati mereka bagaikan satu badan. Apabila satu anggota menderita, maka menjalarlah penderitaan itu keseluruh badan sehingga tidak dapat tidur dan panas.”(mutafaq Alaih). Rasa cinta ini tertanam diatas dasar ta’aruf (saling kenal) dan rafaahum (saling memahami). Memahami sifat muslim yang lain merupakan dasar bagi tumbuhnya Mahabbah. Dalam kerangka ini kita akan merasakan kesejuakan nasehat dan teguran, jauh dari rasa dendam. Tidak ada bentuk lain dari sebuah pertolongan terhadap orang yang menganiaya kecuali dengan mencegah penganiayaan itu. Karena itu mengapa kita merasa sakit hati jika ada seseorang yang berusaha untuk mencegah perbuatan aniaya yang diluar kesadaran kita. Seharusnya kita berterimakasih atas pertolongan tersebut dan bertambah kecintaan kita kepadanya.
JANGAN JADI PENGECUT
Allah SWT berfirman dalam Al – Qur’an surat Ali Imran ayat 179 sbb :
“ Allah sama sekali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan (yang sedang) kalian (alami), sampai Allah memisahkan yang jahat(orang-orang munafik) dari yang baik (orang-orang beriman) dan Allh pun tidak akan memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepada kalian.”
Sifat pengecut dan mudah mengingkari janji itulah yang menjadi ciri khas dari orang munafik. Dengan sifatnya yang hina itu, mereka memperlihatkan belangnya kepada orang lain, sebelum meraka harus mengahadapi hari pembalasan yang akan diterima diakhirat kelak.
Jika kita melihat didalam peristiwa perang Uhud, nampak anasir-anasir yang bersih, tercermin dalam peperangan yang pertama. Lebih jelas lagi tercermin ketika mempertahankan kemenangan yang mereka capai itu. Didalam perkembangan selanjutnya, ketika menghadapi pukulan musuh, yang amat berat terutama dari kaum musrikin itu, akan lebih nampak lagi keimanan kaum muslimin. Orang – o rang islam menulis riwayat sejarahnya dengan darahnya sendiri. Mereka dengan tekat bulat terjun dalam kancah peperangan yang amat dahsyat. Sesungguhnya mereka itulah memancangkan sejarah hari depan kaum muslimin. Peristiwa demi peristiwa terus terjadi tidak habis-habisnya, mengisi kehidupan umat islam. Selama masih ada orang-orang islam yang melakukan jihad, membela agama Allah, maka selama itu pula, agama islam akan tegak. Kaum muslimin diberbagai kawasan kini menghadapi tipu daya yang luar biasa, dari musuh-musuh Allah. Mereka melalui cara-cara kotor ingin menghancurkan agama Allah. Mereka juga tidak segan-segan membunuh mujahid-mujahid islam, seperti yang terjadi belakangan ini, yaitu kepada dr. Abdullah Azam yang meninggal akibat ledakan bom. Semua itu sebagai bukti dari perbuatan kaum munafikin yang amat pengecut. Tidak kurang dari dua juta Syuhada diafganistan mati syahit akibat kekejian Rusia.
Dalam sejarah Islam, gambaran itu amat indah dipentaskan oleh Khitsamah, yang anaknya syahid dalam perang badr. Ia menghadap kepada Rosulullah SAW, lalu berkata : “ Ya Rasul Allah, aku ketinggalan dalam perang badr, anakku telah syahid lebih dahulu. Lalu aku tadi malam bermimpi melihat anakku dalam keadaan indah, sambil menikmati buah-buahan. Lalu anakku berkata :” Ayoo, susulah aku” selanjutnya Khaitsamah berkata:” Ya Rasulullah doakanlah agar aku dapat selekasnya menyusul anakku, mati syahid membela agama Allah, dan bertemu ankku disorga.
Begitulah sikap seorang muslim, tanpa ragu, tidak ada sedikitpun sikap pengecut didalam hatinya, karena dihadapannya terbentang luas sorga jannatuna’im……
KEIKHLASAN
Rosulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Mslim : Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahit. Ia didatangkan dan ditanya nikmat-nikmat-nya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : “apakah yang kamu amalkan didunia?” ia menjawab : “saya berperang sampai mati syahid! “Dia berfirman :” Kamu berdusta, sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani, dan itu telah dikatakan (manusia kepadamu).” Kemudian ia diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sehingga ia terlempar kedalam neraka. Seorang yang mempelajari ilmu, mengajarkan dan membaca Al-Qur’an didatangkan. Nikmat-nikmatnya ditanya dan ia mengakuinya. Dia berfirman :”apakah yang kamu kerjakan didunia?”ia menjawab :”saya mempelajari ilmu, mengajarkanya dan saya membaca Al-Qur’an karena-Mu!” Dia berfirman:”Kamu berdusta, karena kamu mempelajari ilmu agar dikatakan pandai, dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai Qari, dan semua itu telah diucapkan (manusia kepadamu). Kemudian diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sampai dicampakkan kedalam neraka. Dan orang yang diberi kelapangan oleh Allah dengan berbagai jenis harta. Ia ditanya tentang nikmat-nikmatnya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman :”apakah yang kamu kerjakan didunia?” ia menjawab :”Saya tidak meninggalkan jalan yang mana Engkau senang untuk diinfaqannya (harta) kecuali saya menginfakannya karena-Mu!. “ Dia berfirman :” Engkau berdusta, tetapi kamu mengerjakan hal itu agar dikatakan sebagai dermawan dan itu telah dikatakan! Ia diperintahkan, lalu ditarik wajahnya kemudian dilemparkan keneraka.
Gambaran diatas sangat ekstrim. Tetapi Allah hendak memperlihatkan betapa nilai amal seseorang tidak dapat diukur dari segi Zhohiriyahnya saja. Contoh-contoh tersebut sangat berkaitan dengan dunia dakwah. Dakwah memerlukan orang – orang yang menyeru. Merekalah yang disebut sebagai da’I atau ulama. Dakwah juga memerluksn sarana fisik, bahkan pada tahap-tahap awal kebtuhan ini sangat demikian tinggi. Peranan para dermawan atau donatur sangat menonjol. Dakwah yang menggunakan kekerasan berkaitan dengan masalah perang. Dalam islam mati dijalan perjuangan merupakan cita-cita yang utama. Mati dalam medan pertempuran bahkan memiliki keistimewaan sendiri, yakni tidak perlu dimandikan jenazahnya. Dakwah berarti menyeru kepada manusia menuju suatu perubahan yang diinginkan. Karena itu, dalam dakwah interaksi dengan manusia umumnya sangat sering terjadi. Seorang pengemban dakwah, apakah ia seorang prajurit, ulama maupun penyandang dana, senantiasa berada ditengah-tengah manusia. Peluang penyakit yang ditimbulkan dari ulah manusia disekeliling para pengemban dakwah dengan demikian terbuka lebar. Penyakit yang paling berbahaya adalah tumbuhnya rasa kebanggaan diri ( UJUB ) dan ingin dilihat atau dipuji Khalayak ( RIA ).
Rasulullah bersabda: “Allah yang maha mulia dan maha besar berfirman :”Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal suatu amal didalamnya ia menyekutukan kepada selain Aku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim)
Rasulullah bersabda dalam hadist yang lain :” Pada akhir masa akan keluar beberapa orang yang mengambil keduniaan dengan agama. Mereka mengenakan kulit kambing kepada manusia karena halusnya. Lidah mereka lebih manis daripada gula, namun hati mereka seperti hati serigala. Allah yang maha mulia dan maha besar berfirman :”Apakah mereka tertipu dengan-Ku? Atau mereka berani terhadap-Ku? Demi Aku, Aku bersumpah, sungguh akan Aku bangkitkan fitnah kepada mereka dari kalangan mereka, yang meninggalkan kebingungan kepada orang yang penyantun dari mereka!” ( At Tirmidzy ).
Allah menggunakan kalimat “ mereka mengenakan kulit kambing kepada manusia karena halusnya.” Ini suatu Khinayah bagi manusia yang halus diluar namun batinnya mengandung kejahatan dengan berbagai tipu daya. Mereka tidak mempunyai kecintaan kepada hamba-hamba Allah namun sebaliknya mereka hanya mencintai diri mereka sendiri saja. Mereka menipu manusia dengan menampakan kecintaan dan sayang kepada manusia dengan maksud memperoleh secara sempurna tujuan-tujuan duniawiyahnya, sebagaimana mereka mengharapkan penghormatan orang lain dengan kebaikan mereka yang bersifat lahiriah itu.
Tidak ikhlas merupakan penyakit yang berat, karena tiada seorangpun yang tahu keberadaannya kecuali orang yang berpenyakit itu sendiri. Karena sukar membedakan mana mereka yang telah benar-benar memelihara hatinya dan mana yang telah menghancurkan amalannya sendiri.
CINTA
DAN PENGORBANAN
Bukti kecintaan Nabiullah Ibrahim AS kepada Allah SWT adalah dipersembahkannya nyawa yang Cuma selembar demi mengemban risallah dakwah. Ketika bapak dan kaumnya menjadikan berhala sebagai sesembahan yang sebenarnya.
“Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”(Al-an’am :74). Tetapi seruan nabi Ibrahim AS malah mendapatkan jawaban yang mengelikan. “kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya ( Al anbiyaa’:53).bahkan mereka menambahkan: “apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main? (Al anbiyaa’:55).
Seakan habis sudah hujjah Nabi Ibrahim As untuk menghadapi kejahiliyahan kaumnya. Maka ketika kaumnya pergi, segara Nabi Ibrahim As memenggal semua patung-patung itu kecuali yang berukuran paling besar. Apa resiko yang harus diterima Nabi Ibrahim As? Mengetahui bahwa ibrahim adalah pelaku perusakn berhala-berhala itu, segera dijatuhkan hukuman yang setimpal. “bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.(Al anbiyaa’:68). Maka dilemparkanlah Nabi Ibrahim As dalam lautan api dan dengan segera api melalapnya. Ternyata Allah tidak menghendaki api membakar tubuh kekasih-Nya. “hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”(Al anbiyaa’:69). Sungguh Nabiullah Ibrahim As telah bersedia mempersembahkan nyawa sebagi bukti cintanya.
Melihat ayahnya selalu dalam kubangan kejahiliyahan, Nabi Ibrahim As pun segera berdialog dengannya. “ wahai ayahanda, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”( Maryam:42). Jawab sang ayah:”Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.”(Maryam:46). Terhenyak Nabi Ibrahim As mendengar jawaban dari orang yang disayanginya. Berarti sekarang hanya ada dua pilihan bagi Nabi Ibrahim AS, tinggal bersama orang tua yang dicintainya yang tetap melakukan ibadah kepada berhala-berhala itu. Atau pergi meninggalkan orang tua yang dicintai demi kebersihan dan kemurnian cinta kepada Khaliqnya. Berkata Ibrahim :”Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya dia amat baik kepadaku.”(Maryam:47). Segera Nabi Ibrahim AS menjauhkan diri dari mereka dengan cara yang sangat ma’ruf (baik).” Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain dari Allah. Dan aku akan berdoa kepada rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabb-Ku ( Maryam:48). Memang suatu saat cinta harus memilih.
Setelah sekian lama menikah dengan sarah, Nabi Ibrahim As belum juga dikarunia seorang putra. Bertahun-tahun keinginan itu terpendam dalam hati kedua suami-istri. Cobaan yang sangat berat bagi mahligai rumah tangga Ibrahim. Dengan sabar beliau senantiasa bermunajat kepada Allah ‘Azzawajala. “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (Ash Shaffat:100). Atasan anjuran istrinya sarah – Ibrahim As mengambil seorang pembantunya – Hajar menjadi isteri yang kedua. Pada saat itu usia beliau sudah memasuki 86 tahun. Hanya dengan ijin Allah juga bila kemudian ternyata Hajar dapat mengandung.
“maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat penyabar. (Ash Shaffat:101). Ya, lahirlah seorang putera dari rahim mulia, Ismai As. Sungguh cinta itu memerlukan kesabaran dan ketekunan.
Betapa sayang Nabiullah Ibrahim AS terhadap Hajar, isteri yang telah mempersembahkan kepadanya seorang putera yang baik, Ismail. Betapa kerinduan yang sudah lama terpendam itu kini dapat tercurahkan dengan kehadiran ismail yang mungil dan lucu. Ternyata cinta terus memerlukan bukti. Sekali lagi Allah menguji kecintaan Ibrahim As dengan sebuah pengorbanan yang agung. Ibrahim As membawa Hajar beserta Ismail yang masih menetek ke makkah. Dibekali keduanya dengan kantong berisi kurma dan air, kemudian ditinggalkan keduanya dilembah gersang tersebut. Hajar segera berteriak,”Hai Ibrahim, kemanakah enkau akan pergi? Dan engkau tinggalkan kami dilembah yang tidak ada manusia ini? Seruan itu diulanginya berkali-kali tetapi Ibrahim As tetap tidak menjawab dan tidak juga menoleh kepadanya. Apakah Allah yang menyuruh kamu berbuat demikian? Tanya Hajar selanjutnya. Ya, jawab Ibrahim. Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, tandas Hajar menutup perbincangan.( HR.Bukhari).
Sungguh pengorbanan terus dituntut, sebagai bukti cinta yang luhur. Melaksankan semua perintah khaliqnya walaupun harus meninggalkan kedua orang kekasihnya Hajar – Ismail ditempat yang tidak ada manusia dan air! Diserahkan kedua kekasihnya itu kepada kekasihnya Allah Azzawajalla.
Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman didekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami ( yang demikian itu ) agar mereka mendirikan Shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah buahan. Mudah-mufahan mereka bersukur.( Ibrahim :37). Itulah doa Beliau untuk kedua orang kekasih yang telah ditinggalkannya ditanah makkah. Sungguh cinta menuntut kepasrahan dan kerelaan mengorbankan apa-apa yang disukainya.
Setelah sekian lama berpisah, Nabiullah Ibrahim As menemui putra tersayangnya, Ismail, ketika sampai pada usia anak-anak. Sekali lagi cinta memerlukan bukti.belum selesai rasa rindu yang terpendam didada, ibrahim As harus membuktikan besarnya rasa cinta kepada Allah melebihi segala-galanya.
“ Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”(Ash shaffat: 102). Dan inilah jawaban seorang putra kekasih Allah ‘Azza wa jalla: “ Hai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”( Ash shaffta:102).
Inilah perbincangan antara dua orang yang saling mengasihi dan mencintai Allah Swt melebihi segala-galanya. Tatkala keduanya telah berserah diri dan ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). (Ash shaffat:103). Allah swt pun tidak menyia-nyiakan pengorbanan keduanya. “ Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” ( Ash shaffat:107).
Itulah rangkaian pengorbanan Nabiullah Ibrahim As untuk membuktikan betapa besar rasa cintanya kepada Allah SWT. Suatu saat orang mungkin mampu mengorbankan dirinya atau mengalami penderitaan demi aqidah yang diyakininya. Tapi itu semua bisa menjadi luntur ketika yang harus dikorbankan dan yang harus menderita adalah orang yang sangat disayanginya.
Nabiulah Ibrahim As telah mampu membuktikan itu semua.
THUMAKNINAH DAN SAKINAH
Satu- satunya perisai yang mampu menangkis goncangan badai kehidupan adalah kekuatan iman, yang mampu membentuk kemantapan jiwa dan ketahanan rohani. Didalam Al-Qur’an, ketahanan rohani yang memantul dari landasan iman disebut thumakninah dan sakinah, yang artinya serupa dan sama, yaitu ketenangan, ketentraman, kemantapan atau ketahanan jiwa. Dr. Ahmad Syarbani, mahaguru diuniversitas Al-Azhar, mesir merumuskan pengertian thumakninah itu :” Hati yang yakin dan mantap terhadap sesuatu kebenaran (ai-haq), tidak ragu-ragu tidak maju mundur, tidak takut dan tidak duka cita dalam menghadapi sesuatu persoalan.” (akhlakul Qur’an, jilid I hal.80). apabila Thumakninah itu sudah bersemi dalam jiwa, lebih-lebih bagi seorang pejuang dilapangan. Maka hatinya akan mantap menghadapi tantangan yang melintang, daya tahannya bertambah kuat, semangat optimisme akan mendorongnya maju sampai cita-cita tercapai. Ketahanan rohani yang demikianlah yang dilukiskan Allah AWT dalam Al Qur’an : “Allah menjadikan hal itu sebagai kabar gembira (optimisme) bagi kamu dan supaya hati kamu menjadi tenteram, dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah yang maha kuasa dan bijaksana.”(Ali imran:126).
Ayat diatas turun tatkala perang Badar, dimana pasukan muslimin hanya berjumlah kurang lebih 300 orang dengan persenjataan yang sederhana, dan harus menghadapi pasukan Quraisy yang jumlahnya kira-kira 1000 orang dengan senjata yang mutakhir bin modern untuk ukuran pada zaman itu. Melihat lawan yang jumlahnya tiga kali lipat, tidak heran bila timbul kegoncangan hatii pada pasukan muslimin, sebab menurut strategi yang normal tentulah pasukan kecil akan kalah. Akan tetapi, pada saat yang kritis itu, Allah SWT mengijeksikan ketahanan rohaniah (thumakninah) kedalam jiwa tentara muslim, dan bersamaan dengan itu Allah SWT mengirim bala bantuan berupa 3000 malaikat, sehingga tentara Quraisy hancur dan kalah.
Saudaraku, jika hati seorang muslim sudah mantap dan tenang, maka ia tidak akan goncang dan gugup jika menghadapi tantangan atau kesulitan. Sebaliknya juga tidak akan melonjak-lonjak (over acting) kalau mendapat kemenangan. Adapun thumakninah itu ada 3 macam:
Thumakninah dalam hati dan jiwa :
Ini tumbuh karena senantiasa ingat (berkomunikasi) dengan Allah SWT, dalam segala situasi dan kondisi, seperti yang dimaksud dalam surat Ar-Ra’d :28 yang artinya :”Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenteram (thumakninah) karena senantiasa ingat kepada Allah . ketahuilah bahwa dengan ingat kepada Allah, hati menjadi mantap/tenteram.
Thumakninah dalam cita-cita dan tujuan :
Ialah memegang prinsip hidup mempunyai pendirian yang teguh, tegak dan tetap mengemban cita-cita dan tujuan istiqomah. Dia bertekat seperti yang dimaksud dalam surat Yusuf :108 yang artinya:”katakanlah: inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak kamu kepada jalan Allah. Dengan pemandangan yang terang (kesadaran).
Thumakninah terhadap janji Allah
Ialah, hati tetap yakin terhadap janji Allah, yang akan memberikan kemenangan dan kelapangan kepada orang-orang yang beriman seperti yang ditegaskan dalam Surat AL- A’raf :156 yang artinya :” Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu….”
Sakinah menurut ilmu bahasa artinya tenang tidak bergerak. Sedang menurut Al-Qur’an ialah kemantapan hati. Yakin, hati-hati dalam berfikir dan berkata. Ridho dan nilai-nilai rohaniah lainnya yang menunjukan kekuatan jiwa.
Menurut Fakhrur Razi dalam tafsirnya pengartian sakinah itu ada 3 macam yaitu:
Tenang, sopan santun, dan yakin (kebulatan hati). Dalam Al’Qu’an ditemukan 6 kali kata sakinah, yaitu 3 kali dalam surat Al-Fath, 2 dalam surat At-Taubah, dan 1 dalam surah Al- Baqarah. Pada umumnya ayat-ayat tentang sakinah oleh Allah SWT diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada waktu beliau menghadapi detik-detik yang mencemaskan dalam perjuangan, yang memerlukan kemantapan rohani dan kebulatan tekad. Saat tentara muslim terpukul mundur dalam perang hunain, maka Allah SWT mengkaruniakan kepada meraka keahanan rohaniah dan bantuan – bantuan yang diperlukan, sehingga pasukan Rosulullah berhasil menang. Hal itu ditegaskan dalam Al-Qur’an pada surat At-taubah :26 yang artinya : “ Kemudian Allah menurunkan ketenangan(sakinah) kepada rosul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan diturunkan-Nya tentara (bantuan) yang tidak kamu lihat dan disiksa-Nya orang-orang yang ingkar. Sesungguhnya itulah pembalasan terhadap orang-orang yang kafir.”
Peristiwa lainnya ialah ketika rasulullah dan Abu Bakar Shidiq bersembunyi digua Tsaur, tatkala akan berangkat Hijrah dari makah ke madinah. Pasukan Quraisy yang mengejar sudah berada dipintu gua sehingga jiwa Nabi dan Abu Bakar terancam. Pada detik-detik itulah Allah menghembuskan semangat ketenangan kedalam hati beliau-beliau dan memalingkan perhatian lawan untuk tidak meneliti lebih jauh kedalam gua. Keadaan ini dilukiskan dalam surat At-Taubah ayat 40 yang artinya:”Pada waktu itu dia (Rosulullah) berkata kepada kawannya (Abu Bakar Shidiq):”jangan engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita. Lalu Allah menurunkan ketenangan(sakinah) kepada (kedua beliau) dan dikuatkan-Nya dengan tentara yang tidak kamu lihat”.
Selain dari itu pada 3 ayat dalam surat Al-Fath yang melukiskan perjuangan Rosullulah menjelang kembalinya kota makah ketangan kaum muslimin (Fatuhatul makkiyah ), peristiwa Bai’at dibawah pohon dilereng bukit Hudaibiyah (Bai’atur Ridwan), kecongkakan dan over acting yang timbul dipihak musuh karena merasa kuat. Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah menurunkan ketenangan kedalam hati kaum muslimin.
Dapat disimpulkan bahwa sakinah adalah kemantapan hati dan ketahanan rohaniah yang dihembuskan oleh Allah SWT kedalam jiwa para Nabi dan pejuang-pejuang kebenaran pada saat-saat meraka menghadapi tantangan-tantangan berat. Pada hakikatnya makna sakinah dan thumakninah itu serupa, yang disebut ketahanan rohaniah. Menurut Ibnu Qaiyim, ada perbedaan gradual pengertian antara thumakninah dan sakinah. Adapun sakinah terhindarnya perasaan takut dari dalam hati, sedang thumakninah menumbuhkan kekuatan dan kebulatan tekat. Jadi menurut Ibnu Qaiyim, thumakninah itu lebih tinggi derajatnya dari pada sakinah. Meskipun keduanya sama-sama mengandung keistimewaan disisi Ilahi. Bersukurlah kita kaum muslimin yang dianugerahi dua unsur kejiwaan tersebut.
WAKTU
Nabi menekankan nilai waktu dan menetapkan tanggungjawab manusia terhadapnya dihadapan Allah pada yaumul hisab. Hingga dua diantara empat pertanyaan yang terpenting yang akan ditanyakan dihari perhitungan nanti adalah mengenai waktu. Dari Mu’adz bin Jabal, bersabda Rosulullah SAW:” Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba dihari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana dipergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.”(HR Bazzar dan Tabrani).
Agar terhindar dari kerugian, pertama-tama kita harus mengetahui bencana-bencana yang dapat menghabiskan waktu seseorang dan memakan usianya jika ia tidak berhati-hati terhadap bahayanya, bencana-bencana itu antara lain :
Kelalaian
Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan manusia, bahwa mereka yang lalai akan dijadikan kayu bakar api neraka dan menjadikannya lebih sesat dari binatang. (Al-A’raf :179).
Juga dalam surat AL-Araf : 205 yang artinya :”dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Menunda Pekerjaan
Dalam menunda pekerjaan atau menangguhnkan kewajiban hari ini hingga esok hari terdapat bencana-bencana, karena :
Pertama, kita tidak dapat menjamin untuk bisa hidup hingga esok. Siapakah yang dapat menjamin seseorang dapat hidup hinga hari esok, padahal kemtian bisa datang setiap saat.
Kedua, adanya gangguan-gangguan yang datang tiba-tiba seperti penyakit, kesibukan yang baru dan lain-lain. Karenanya adalah suatu kekuatan dan keberuntungan, bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Dan merupakan suatu kelemahan atau kerugian, jika menunda maka kesempatan akan hilang (berlalu). “ berloma-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.”(Al Baqarah :148).
Ketiga, Sesungguhnya ditiap-tiap hari ada aktifitas dan tiap-tiap saat ada kewajiban.
Keempat, sesungguhnya mengakhirkan pelaksaan pemerintah dan menunda perbuatan baik, menjadikan jiwa terbiasa melakukannya. Orang mukmin mengerti akan nilai dan pentingnya waktu, merupakan keharusan baginya untuk selalu melakukan kebaikan, dan tidak layak baginya menunda kewajiban hari ini kehari lain dengan alasan malas atau berat hati. Demikianlah sedikit bencana-bencana yang dapat menghabiskan waktu seseorang jika ia enggan memperhatikannya. Sedemikian pentingnya waktu, hingga dapat diaggap merupakan kehidupan manusia yang hakiki. Maka bagi muslimin ada kewajiban-kewajiban terhadap waktu yang harus ia sadari selalu dalam perhatiannya. Diantaranya :
1. tidak menyia-nyiakan waktu.
Para ulama mengatakan : waktu adalah pedang, jika kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia akan memotong dirimu. Menyia-nyiakan waktu utnuk sesuatu yang tidak berguna termasuk hal yang mubadzir yang sangat dilarang oleh agama. Diantara kebencian Allah adalah menyia-nyiakan waktu.
Dalam surat Al Mu’minun:1-3 Allah berfirman:” Sungguh berbahagia orang yang beriman, yaitu mereka yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “dua nikmat Allah yang tertipu olehnya kebanyakan manusia; nikmat sehat dan nikmat waktu yang luang”.
2. Belajar dari perjalanan hari demi hari
seorang muslim harus berprinsip kearah yang lebih baik, baginya hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
3. Mengatur waktu
orang yang berakal dan dapat mengendalikannya seharusnya memiliki 4 waktu: pertama, waktu untuk bermunajat kepada Rabbnya. Kedua, waktu untuk mengintrospeksi diri. Ketiga, waktu untuk memikirkan ciptaan Allah. Keempat, waktu untuk memenuhi kebutuhan jasmani dari minum dan makan. Begitulah kata Rasulullah SAW.
simak juga nasehat beliau yang sangat berharga ini.
Pergunakan 5 perkara sebelum datang yang lain :
1. kehidupanmu sebelum kematianmu.
2. keehatan sebelum datang penyakitmu.
3. kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu.
4. masa mudamu sebelum masa tuamu.
5. kekayaanmy sebelum datang kemiskinanmu.
( HR.Hakim).
demikianlah Islam mengajarkan kepada manusia untuk memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
Sunday, April 6, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)